Connect with us

Blog

Potret Kehidupan, Bersyukur

Published

on

JEJAKNORMAN|| Malam semakin kental. Saya belum juga bisa tidur. Akhirnya saya bangun dan membuka beberapa momen yang saya jepret beberapa tahun lalu.

Foto-foto itu saya simpan di sebuah flashdisk. Banyak ternyata. Tetapi hampir sebagian besar adalah foto-foto hasil jepretan kehidupan keseharian.

Salah satunya sebuah foto seorang bocah tertidur pulas di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang menghubungkan Depok Town Square dan Margo City. Ya dua mal yang terkenal di Depok, Jawa Barat.

Bocah laki-laki sehari-hari menanti rupiah demi rupiah dari orang yang lalu-lalang di JPO tersebut. Ia berharap ada rezeki yang jatuh di sebuah plastik bekas cat yang diletakkan di depannya.

Rezeki demi rezeki untuk menyambung hidup. Entah sampai kapan.

Ada yang hanya berjalan tanpa menoleh sedikitpun apalagi menjatuhkan rupiah ke dalam plastik bekas cat itu. Namun tak sedikit yang iba dan beberapa uang logam singgah di plastik bekas cat itu.

Ketika saya lewat. Bocah itu tengah tidur pulas. Hari masih siang. Mungkin karena angin sepoi-sepoi genit mencubit tubuhnya. Akhirnya bocah itu tertidur pulas tetapi plastik bekas cat tetap menanti jatuhnya rupiah demi rupiah dari mereka yang lalu-lalang di JPO tersebut.

Melihat foto yang saya jepret beberapa tahun silam ketika masih tinggal di Depok, Jawa Barat sontak saja menggores hati saya.

Seharusnya bocah itu tertawa dan bermain dengan teman seusianya. Namun bocah itu harus bergelut dengan ganasnya kehidupan. Dia membuang masa kanak-kanaknya: bercengkerama dengan teman-temannya. Ia melupakan semua kecerian yang seharusnya dia peroleh dengan usianya itu.

Saya tak pungkiri bahwa ada juga yang memanfaatkan bocah itu untuk mengeruk keuntungan dengan menjual keluguan ditambah penampilan yang dibuat agar orang iba. Sebuah warna di balik kemegahan sebuah kota seperti Depok, misalnya.

Namun lepas dari itu. Setidaknya foto seorang bocah tertidur pulas dengan kaleng bekas cat menunggu jatuhnya rupiah demi rupiah menggambarkan betapa kerasnya kehidupan.

Roda kehidupan memang keras. Dia menghantam siapa pun. Siap atau tidak siap. Ada yang tetap bertahan. Namun ada pula yang melambai-lambaikan kain tanda menyerah.

Pelajaran yang saya dapat dari foto yang saya jepret itu simpel saja: tetap bersyukur dalam kondisi apapun. Tetap berjuang karena Yang Kuasa tetap bersama mereka yang mengandalkan-Nya.

Malam semakin larut. Udara dingin menyeruak melalui lubang angin. Hujan rintik-rintik mulai menari-nari di halaman rumah. Mungkin sebentar lagi hujan deras. Bau tanah basah mulai tercium.

Saya pun mulai menguap. Tanda peraduan segera menjemput. Saya tarik selimut karena dingin mulai membalut tubuh ini. Saya melihat jam mungil di meja kecil sebelah tempat tidur. Ternyata waktu telah melewati tengah malam.

Akhirnya selamat malam dan jangan lupa bersyukur dalam kondisi apapun. Karena kebahagiaan itu hanya milik mereka yang pandai bersyukur bahkan dalam ganasnya badai kehidupan.(Norman)

Blog

Dari Banyuwangi, Besar di Papua dan Akhirnya Berlabuh di Minahasa Utara Itulah Sahabat Saya

Published

on

JEJAKPERINTIS.COM || HUJAN masih saja deras usai saya menyambangi Taman Purbakala Waruga di Wania Sawangan, Minahasa Utara.

Dingin yang membalut tubuh ini bikin perut saya keroncongan alias lapar berat.

Saya teringat sahabat saya yang membuka rumah makan sederhana di sekitar Matungkas. Tak jauh dari Zero Point Minahasa Utara.

Tanpa ayal lagi, saya pun menerabas hujan melalui jalan arah balik ke Tondano menuju jalan besar ke wilayah Airmadidi.

Istilah kata: gaspol!

Sepeda motor butut terus melaju. Membelah hilir-mudik arus kendaraan di jalan.

Dari Taman Purbakala Waruga saya terus sampai akhir belok ke kiri dan menemukan jalan agak besar masuk ke wilayah Airmadidi. Tak jauh dari Pasar Airmadidi.

Hujan masih deras turun. Truk kontainer besar menuju Pelabuhan Bitung masih mengasap. Saya dengan motor tua keluaran tahun 2012 masih tetap meliuk-liuk di antara truk kontainer dan mikro (angkutan kota).

Akhir saya pun tiba di rumah makan sahabat saya yang satu ini. Namanya Wawan Setiawan. Usianya baru 43 tahun.

Rumah makan sahabat saya ini cukup sederhana. Tapi pelanggannya banyak.

Dibantu sang istri yang asli Minahasa ini Wawan menjajakan makanan yang suwer enak banget. Salah satunya itu lho bubur Tinutuan. Bubur Manado yang pas di lidah apalagi dimakan pakai bakwan jagung. Maknyuss deh!

“Piye kabare mas,” sapa saya.

Wawan menjawab singkat: “Apik mas!”

Saya biasa ngobrol dengan Wawan pakai bahasa Jawa. Karena memang pria bertato wajah Yesus di tangan sebelah kiri ini memang asli Jawa.

Dia lahir di daerah Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur tetapi besar di Sentani, Papua.

Daerah Genteng, Banyuwangi bukan daerah asing buat saya. Karena ketika tragedi “Dukun Santet” kurung waktu Februari 1998 – Oktober 1999 saya pernah mendapatkan penugasan meliput peristiwa itu.

Jadi saya hapal daerah Genteng, Banyuwangi tempat kelahiran Wawan, sahabat saya yang satu ini.

Saya bahkan pernah numpang menginap di sebuah kantor polisi di daerah Genteng, Banyuwangi. Kalau mau naik kereta menuju Stasiun Senen, Jakarta juga bisa melalui sebuah stasiun di daerah Genteng.

Yang buat saya tertarik dengan sohib saya ini. Itu lho! Daya rantaunya yang bikin geleng-geleng kepala. Lahir di Genteng, Banyuwangi tetapi besar di Sentani, Papua. Di Bumi Cendrawasih inilah dia menemukan tambatan hatinya orang Minahasa, Sulawesi Utara.

Mereka menikah dan memilih menetap di Minahasa Utara tepatnya di daerah Matungkas. Dan kini mereka membuka usaha rumah makan. Tiga putri cantiknya menjadi saksi cinta mereka berdua. Sebuah perjuangan yang luar biasa!

Ya, luar biasa. Lahir di Genteng, Banyuwangi. Besar di Papua dan kini menapaki hidup di Minahasa Utara demi sebuah kehidupan.

Wawan Setiawan bahagia dengan jalan hidupnya.

Usai saya menyantap bubur Tinutuan. Saya pun pamit karena harus melanjutkan perjalanan lagi: mencari bahan tulisan untuk feature saya.

Sebelum berpisah kami pun berfoto di depan rumah makan sederhananya.

Saya pamit. Sepeda motor butut yang saya bawa mulai bersuara.

Tetap semangat sobat! Nanti kita berjumpa lagi.

Hujan deras berganti rintik-rintik. Saya pun melanjutkan perjalanan menuju kawasan wisata Pantai Likupang.

Ya, ternyata hari masih panjang walau agak sedikit dingin karena dibalut hujan rintik-rintik.(*)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Zox News Theme. Theme by MVP Themes, powered by WordPress.